Bagi sebagian umat islam patung menjadi sebuah hal yang tabu karena bisa di artikan menyekutukan tuhan dengan menyembah patung tersebut. Tapi mungkin itu menjadi sebuah cara pandang yang salah, karena pada hakekatnya membuat atau memiliki patung belum tentu bertujuan untuk menyembahnya tapi bisa pula menteladani tokoh patung yang ada pada perwayangan tersebut.
Mengkutip kejadian yang terjadi di purwakarta tentang pemenggalan sebuah patung “ dalam sebuah percakapan, KH Abdullah Joban, ketua forum cabang Purwakarta, mendesak pihak administrasi untuk menghancurkan patung itu, dengan mengklaim bahwa patung itu bertentangan dengan identitas islamik kota itu.”
“ Patung raksasa Bima itu berdiri di Jalan Baru di Nagri Kaler yang merupakan sub distrik Purwakarta. Dalam pernyataan resminya kepada pihak administrasi, Forum Ulama mengklaim bahwa patung Bima itu memberikan dampak negatif terhadap publik karena itu adalah sebuah imej dari figur yang hanya eksis dalam “keyakinan tahayul” masyarakat. “
“ Ini adalah sebuah cara untuk menghilangkan patung itu dari keyakinan tahayul. Dari sudut pandang ekonomi, patung ini hanya buang-buang uang dan dari sudut pandang hukum, patung ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat umum,” kata Abdullah. Ia kemudian menambahkan bahwa patung itu harus diganti dengan sebuah figur Islamik. Kepala distrik Purwakarta, Dedi Mulyadi tampaknya masih memiliki 2 lagi patung yang merupakan patung bernuansa pewayangan Jawa, yang didirikan di daerah itu. “
Dari kutipan di atas apa yang di ungkapakan mungkin ada benarnya juga bahwa dari segi uang patung hanya membuang uang – uang saja karena di Indonesia ini masih banyak yang lebih harus di dahulukan. Tapi ada baiknya juga patung yang telah terbuat tidak semestinya di hancurkan karena itu sama saja menghancurkan karya seni dan membuang uang.
Seharusnya perbedaan pendapat ini di selesaikan dengan baik, agak apa yang telah terjadi tidak menghasilkan kerugian. Mungkin juga dengan pembentukan patung tersebut pemerintah di kota tersebut ingin membuat sebuah kararter dari tokoh perwayangan tersebut. Selama iman dan keyakinan ini masih di jalan allah tidak ada salahnya hanya untuk menteladani tokoh tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar